Museum Batik Indonesia

Posted By :
December 12, 2009

Dari Keraton sampai Pesisir

Cairan malam inilah yang kemudian berfungsi sebagai perintang warna ketika proses pewarnaan dilakukan. Dan, teknik celup rintang itulah yang diakui oleh UNESCO.

Proses pembuatan Batik terbilang jauh dari mudah. Selain itu, pengerjaannya pun membutuhkan tingkat ketelitian tinggi. Untuk menghasilkan sebuah Batik berkualitas, pengerjaan diimulai dengan menggambar pola motif, dilanjutkan dengan pemberian lilin pada tempat yang diinginkan, diwarnai, lilin tersebut kemudian dilarutkan dengan air, pemberian lilin lagi, dan seterusnya.

Batik sendiri pada awalnya tumbuh ketika Islam masuk ke Indonesia. Keraton Solo dan Yogyakarta bisa dibilang merupakan titik awal berkembangnya Batik. Di sana, Batik dibuat dan diperlakukan tidak boleh sembarangan (banyak aturannya). Sebagai respons, lahirlah Batik pesisir yang dinamis. Berbeda dengan Batik Keraton, Batik pesisir terpengaruh oleh banyak budaya. Mereka menggambarkan wujud sesuai aslinya.

Salah satu pengaruh lahir dari pemerintahan kolonial Belanda yang khas dengan bunga-bungaan. Hal ini turut menorehkan penciptaan motif buketan, yakni motif kumpulan bunga. Pewarnaan yang digunakan pun cenderung terang, seperti biru, putih, dan merah—tidak seperti Batik Solo dan Yogyakarta yang dominan dengan
warna putih, coklat, dan hitam.

Kontroversi

Seiring berkembangnya zaman, Batik sempat mengalami masa kemunduran. Ia dianggap sebagai kain yang ‘kuno’ dan hanya dipakai di saat seremonial saja, seperti pernikahan maupun hari besar nasional.

Namun, Batik akhirnya booming kembali. Hal ini didukung banyaknya perancang busana Indonesia yang menggunakannya sebagai media kreativitas. Para desainer tersebut turut membantu kemajuan dan perkembangan Batik dewasa ini. Batik pun melanglangbuana ke mancanegara.

Selain itu, kebangkitan Batik Indonesia juga disebabkan oleh kejadian klaim oleh negara tetangga. Padahal, secara garis besar, Batik Indonesia lebih penuh detail dan rumit pengerjaannya dibanding di negara lain. Hal inilah yang juga menjadi kelebihan Batik Indonesia dibanding mereka.

Apresiasi

Untuk menjaga kelangsungan hidup Batik, salah satunya dengan  mendokumentasikan dan mempelajarinya lebih mendalam. Hal inilah yang dapat dilakukan oleh masyarakat. Kita juga dapat mengunjungi Museum Tekstil Jakarta yang memiliki koleksi kain klasik Indonesia yang tertata apik hingga mencapai lebih dari seribu helai. Kain-kain di Museum Tekstil berasal dari Aceh hingga Papua.

Tak hanya mempelajari Batik, di Museum Tekstil Jakarta, Anda pun dapat belajar cara membatik. Hal ini sangat penting supaya karya seni budaya yang bernilai tinggi ini tidak punah dan dapat terus berkembang sesuai zaman.

Museum Tekstil Jakarta
Jln. K.S. Tubun No. 2–4 Petamburan, Jakarta Barat

  • Telp/Fax : P. (021) 560 – 6613 / F. (021) 565 – 4401
  • Buka : Selasa–Minggu ( 09.00–15.00 ), Senin/Hari Besar Tutup
  • Karcis: Dewasa/Umum : Rp2.000 Mahasiswa: Rp1.000 Anak-anak/Pelajar: Rp600

Related Articles

  1. Galeri Batik: Embrio Museum Batik Indonesia
  2. Miss Universe Mengunjungi Galeri Batik
  3. Batik Mulai Terasa Hilang
  4. Authentic Surf Batik Dari Quiksilver
  5. Penghargaan Terhadap Batik

Share This!

Leave a Comment

You must be logged in to post a comment. Not a member? why not Register now?



Hello, visitor!

Log in

Not yet a member?
Register now, and you can give comments on our articles.
Lost Password